Rabu, 24 Desember 2014

Mentok






Antara Iman dan cara berpikir dalam diskusi agama.
Iman, sejauh yang bisa dipahami adalah sikap bathin. Apa yang diakui, apa yang dipercayai seseorang akan Ketuhanan, akan sesuatu yang melampaui segala yang ada. Pencipta dan yang mengatur alam semesta dan seterusnya. Apa pun istilahnya. Yang jelas penghayatan dan pengakuan seseorang akan sesuatu dibalik segala yang ada. Dan itu? Bergetar dalam hatinya. Walaupun tidak dinyatakan secara lisan dan tertulis. Walaupun dia seorang yang bisu dan tuli. Karena itu iman bisa dikatakan rasa yang bisu. Tanpa tulisan tanpa suara. Tak bersuara tak bernoktah ...


Pernyataan iman, jika seseorang jujur, bisa jadi merupakan pantulan dari sikap bathinnya. Tapi kalau ada seseorang yang mengatakan seseorang sangat beriman kalau bahwa setiap diskusi agama ada orang yang sangat fasih dan luas pengetahuannya tentang topix diskusi yang sedang di ikutinya, itu adalah pernyataan yang salah sasaran. Kenapa itu sering terjadi? karena mereka telah menelan secara mentah dan bulat bulat kalimat yang mengatakan "Ucapan seseorang adalah cermin imannya" ... hee3

Kalau kita mau jujur, bahwa dalam diskusi agama  yang muncul adalah cara berpikir seseorang bukan iman seseorang. Walaupun topiknya adalah agama, Tuhan dan iman, tapi apa yang ditulisnya tentang semua itu adalah pantulan dari cara berpikirnya. Bukan pantulan dari imannya. Pernyataan dan pendapat yang tidak bermutu seorang peserta diskusi dalam sebuah diskusi, bukan gambaran kualitas imannya. Begitu juga sebalilknya. Argumentasi yang canggih sekalipun bukan otomatis menggambarkan kecanggihan imannya. Artinya diksusi agama bukanlah lambang iman. Tapi adalah lambang cara berpikir ...

Pengetahuan seseorang dalam beragumentasi yang bermutu dan jenius serta tajam pola pikirnya dalam suatu diskusi , tidak didapat dengan iman. Tapi dengan belajar. Dengan mengasah ketajaman berpikir ...

Jika seseorang ingin mempertebal iman, diskusi agama bukanlah satu-satunya tempat. Seluruh aspek kehidupan, dari banyak pengalaman sehari-hari, momen-momen tertentu, bisa menginspirasi pada iman seseorang. Bahkan bisa sangat sangat menggetarkan. Misalnya karena mengalami peristiwa yang sangat menyedihkan, kesakitan yang tak tertahankan, kematian seseorang yang dicintai. Atau sebaliknya ketika mendaptkan keberuntangan yang luar biasa. Singkatnya, pupuk iman tidak selalu dalam bentuk kata-kata (ceramah dan diskusi). Alam dengan segala fenomenanya adalah vitamin iman bagi hati yang peka.

Tapi sebaliknya, jika ingin menikmati diksusi, jika ingin mengerti apa yang disampaikan orang lain, memamahami sebuah tulisan, menanggapi pendapat lawan diskusi, tidak bisa ditempuh dengan cara mempertebal iman. Seseorang yang rajin sholat, hafal 200 ayat Alquran, rajin ke gereja, hafal 389 ayat Alkitab, bukan jaminan dia mengetahui sejarah Islam. Bukan otomatis dia tahu Sejarah Yesus. Bukan jaminan ia memahami perbedaan antara Sunnah dengan Hadis. Bukan jaminan dia memahami konsep Trinitas. Bukan jaminan dia memahami konsep Ketuhanan menurut paham Mu’tazillah dan Ahlus Sunnah. Bukan jaminan dia bisa mencerna paham hulul Ibnu Mansur Al Hallaj. Dan …. Bukan jaminan dia bisa berdialog yang nyambung dan argumentatif dengan orang lain.

Keyakinan tidak bisa menembus argumentasi lawan bicara. Keyakinan tidak bisa menggugurkan pendapat lawan diskusi. Mengucapkan Allahu Akbar, nauzubillah, masya Allah, semoga anda ditunjuki oleh Allah, puji Tuhan Yesus dan sejenisnya, TIDAK bisa menggugurkan sebuah pendapat. Pendapat harus dihadapi dengan pendapat. Argmentasi harus dihadapi dengan argumentasi. Logika dan penalaran harus dihadapi dengan hal yang sama. Bukan dengan iman dan dogma.... hee3



Senin, 22 Desember 2014

Ahh Yang Bener



http://loc-ganesha.blogspot.com/


  kebutuhan dasar manusia yang tidak bisa tidak, diakui atau tidak, Adalah uang dan seks.
Uang, adalah urat nadi kehidupan yang paling real. Kecuali jika peradaban kembali surut ke abad purba. Dan seks, adalah basic insting manusia normal. Kecuali jika semua manusia yang ada sudah abnormal. Tapi mengandaikan itu terjadi, Sama artinya dengan mengandaikan kehidupan manusia berakhir. Karena tak kan ada lagi apa yang disebut dengan regenerasi biologis manusia.

   Untuk mencapai uang dan seks, Manusia bertarung dalam hidupnya. Karena keduanya, selalu dalam kelangkaan. Tidak tersedia secara cuma-cuma. Tapi hanya bisa didapat setelah memenuhi segala prasyarat yang relevan. Untuk mendapatkan uang, Manusia harus berjuang untuk memburu lahannya. Dan harus memiliki senjata yang bernama kecerdasan finansial. Sedang untuk mendapatkan seks, Manusia juga harus berjuang untuk memburu momen dan peluangnya Dan harus memiliki sejumlah kompetensi yang terangkum dalam satu istilah:"kecerdasan seksual".

    Lalu bagaimana dengan agama?. Agama tidak berada dalam status kelangkaan. Dia, hanya semacam abstraksi pikiran Hanya sebuah konsepsi imajiner yang ditanamkan kedalam kesadaran manusia. Sepanjang manusia mau membathinkannya, Dan mau patuh melakukan segala ritualnya, maka saat itu juga manusia sudah bisa dikatakan beragama.

    Artinya untuk beragama, Manusia tidak berurusan dengan peluang dan kesempatan. Tidak berhadapan dengan persaingan. Tapi agama, hanya perlu monolog bathin dan tindakan individual dalam dirinya sendiri.
Itu sebabnya, Nyaris selalu terjadi, Seseorang menjual agamanya demi uang dan seks. Karena uang dan seks, Tidak bisa tidak, berani diakui atau tidak, Tetap harus dipenuhi dalam hidup yang normal dan realistis. Baik hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar finansial, Maupun untuk bisnis. Baik saat memilih teman hidup, maupun untuk kepuasan hasrat seksual. Intinya,  Sebelum uang dan seks terpenuhi, Agama akan minggir dari kesadaran manusia. Itulah naturalnya kesadaran dan kebutuhan real manusia. Jika dibalik, biasanya pelakunya akan mengalami disorientasi hidup, Akan terjadi problem-problem gangguan kepribadian. Misalnya seseorang akan mengidap gejala neurotik, egoisme, fanatisme akut, anarkisme sosial, terperangkap menjadi seorang ilusionistik. Dan seterusnya....

    Dan kenyataannya, Manusia sering terperangkap dalam lingkaran setan agama. Manusia yang gagal dalam hidupnya, Gagal dalam mencapai finansialisasi hidupnya, Gagal dalam kehidupan seksualnya, Akhirnya lari mencari perlindungan pada agama, Mereka berdoa dan minta pertolongan Tuhan. Tapi agama dan Tuhan, bisu. Karena memang keduanya, agama dan Tuhan, Hanya abstraksi rasa frustasi yang dibathinkan sebagai kesalehan dan iman.

    Akhirnya manusia penderitanya tetap tidak bisa mengatasi masalah dan memenuhi kebutuhan realnya. Maka semua itu, membuat pribadinya menjadi manusia setengah malaikat. Disatu sisi, tetap berusaha sebagaimana layaknya manusia yang pribadinya sehat (yang berpikir dan bertindak realistis). Tapi disisi lain, dalam kesadaran mereka, tetap bergema rasa lapar untuk ditolong oleh agama dan Tuhan. Akibatnya, mereka menjadi orang asing. Asing dan terseok seok dengan kehidupan kongkritnya. Dan asing dengan dirinya sendiri. Dengan kata lain, Uang dan seks, adalah kebutuhan dasar manusia, Adalah kebutuhan primer manusia. Tanpa dirancang, tanpa direncanakan, bahkan tanpa disebut, Refleks manusia butuh dan selalu membutuhkannya Sedang agama, hanya kebutuhan sekunder, Hanya aksesories tambahan yang dibuat oleh manusia. Hanya ada, ketika diada-adakan. Dan kegunaannya, hanya ada ketika dianggap berguna. Tapi pada uang dan seks, tidak berlaku kosa kata anggapan. Karena dia, melekat pada diri manusia dan kehidupan sosial. Selalu mendesak manusia untuk memenuhinya. Kecuali jika manusia ingin cepat mati, sesuai spirit agama, yang intinya, mematikan potensi dan hasrat-hasrat dasar manusia demi sebuah ilusi yang disebut dengan kesalehan dan iman.

***


http://loc-ganesha.blogspot.com/

Ngeyel

http://loc-ganesha.blogspot.com/


    Suatu ketika seorang guru agama menjelaskan tentang sifat ke-Maha Tahu-an Allah. Disela pelajaran tersebut seorang murid bertanya.

    “Mengapa kita harus masuk neraka padahal Allah sudah mengetahui dosa-dosa kita sebelum kita di ciptakan…?, dan bukankah Allah juga sudah mengetahui seseorang akan masuk neraka atau surga..?  lalu mengapa kita harus dihukum..?

    Guru agama itu menjawab.

    “Kita masuk neraka karena dosa-dosa yang kita perbuat”,

    lalu guru agama itu bercerita tentang masalah takdir bahwasannya ada takdir yang bisa diubah, murid tadi pun kembali bertanya.

    “Apakah Allah mengetahui takdir yang akan diubah manusia..?”

    Guru sang murid menjawab

    “Iya karena Allah maha mengetahui segala sesuatu.”

    “Kalau begitu tidak ada takdir yang dapat diubah karena Allah sudah mengetahuinya, berarti Allah juga yang menetapkan manusia masuk neraka atau surga karena Allah mengetahui sebelum manusia diciptakan, lalu mengapa manusia dihukum atas semua yang ditetapkan Allah, apakah ini adil bagi manusia..?”

    Guru itu terdiam sambil mengerenyitkan dahinya, murid tersebut bertanya kembali.

    “Mengapa Allah menguji manusia? bukankah Allah itu maha tahu, dia sudah tahu apa yang belum terjadi dan sudah terjadi. Semuanya. Bukankah tanpa menguji Allah sudah tahu apa yang akan terjadi dengan manusia itu, sudah tahu bahwa manusia itu akan ingkar atau menyembahNya, sudah tahu bahwa manusia itu akan semakin buruk atau semakin baik”.

    Guru itu menjawab, dengan membacakan surat Al Baqarah ayat 30

    “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata: ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’ Tuhan berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.’

    Maka biarkanlah hal itu menjadi rahasia Allah, sebab kita tidak boleh mempertanyakannya”,

    murid tadi kembali menjawab.

    “Rahasia yang telah diungkapkannya dalam kitab-kitab Nya untuk saling membenci, untuk saling membunuh dan memerangi yang dianggap kafir, padahal semuanya Allah yang menetapkan dan diketahui-Nya sebelum alam semesta diciptakan, apakah Allah suka akan pertumpahan darah manusia yang ditonton-Nya diatas singgasana kebesaran-Nya, apakah Allah suka menyiksa manusia di dalam neraka, apakah ini adil untuk kita..?”.

***
 “Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia akan melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit.” (Qs. Al-An’aam: 125)

Tidak ada seorang pun yang dapat bertindak untuk merubah apa yang telah Allah tetapkan untuknya. Maka tidak ada seorang pun juga yang dapat mengurangi sesuatu dari ketentuan-Nya, juga tidak bisa menambahnya, untuk selamanya. Ini adalah perkara yang telah ditetapkan-Nya dan telah selesai penentuannya. Pena telah terangkat dan lembaran telah kering.


http://loc-ganesha.blogspot.com/







Kamis, 18 Desember 2014

Bablas

    


http://loc-ganesha.blogspot.com/
  
    Dunia penjara bagi orang beriman, sorga bagi orang kafir. Kalimat ini sering kali diucapkan umat Islam yang merasa beriman. Ada beberapa pendapat tentang kalimat tersebut, ada yang mengatakan sebagai hadist nabi dan ada juga yang mengatakan itu adalah sebagai propaganda dari umat Non Islam untuk mengelabui umat Islam.

    Terlepas dari semua itu, kalau kita berani lebih dalam ke kalimat tersebut, maka akan sangat terlihat dampaknya terhadap umat Islam sekarang. Ini bisa mengakibatkan kemunduran umat Islam itu sendiri terutama dari segi ekonomi, pendidikan, teknologi dan urusan duniawi lainnya. Umat Islam hanya sebagai ladang Uang bagi mereka, malah yang lebih parah lagi umat Islam mereka jadikan budak dan kelinci percobaan di setiap kemajuan teknologi mereka tanpa umat Islam sadari. Dan disini terlihat kemunafikan sebagian umat Islam, mereka anti dan benci umat non Islam tapi mereka menggunakan teknologi hasil karya dari umat non Islam. Coba lihat disekeliling anda, product dan brand apa yang ada disekeliling anda?

    Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir, sepintas lalu dipahami bahwa dunia ini milik orang-orang kafir dan surga bagi mereka, sementara orang-orang beriman tidak perlu memiliki atau menguasai dunia ini layaknya orang-orang dalam penjara dan hidup dalam keadaan miskin. Ini adalah pemahaman yang Kebablasan. Bagaimana akan merasakan sorga akherat jika sorga di dunia tidak bisa dirasakan? sedangkan dunia dan akherat saling berhubungan.

    Sorga ada di dunia dan di akherat, neraka juga ada di dunia dan di akherat, kenapa kita tidak ingin menikmati kedua sorga tersebut? sehingga harus merelakan sorga dunia untuk orang kafir? (tanya kenapa? Mikir !!!) ...

Raihlah Dunia mu di dunia ini karena dunia tidak akan ada di akherat.
Raihlah Akherat mu di dunia ini karena di dunia ini lah jalan untuk  keakherat.
Dunia 100% akherat 100%


http://loc-ganesha.blogspot.com/