Antara Iman dan cara berpikir dalam diskusi agama.
Iman, sejauh yang bisa dipahami adalah sikap bathin. Apa yang diakui, apa yang dipercayai seseorang akan Ketuhanan, akan sesuatu yang melampaui segala yang ada. Pencipta dan yang mengatur alam semesta dan seterusnya. Apa pun istilahnya. Yang jelas penghayatan dan pengakuan seseorang akan sesuatu dibalik segala yang ada. Dan itu? Bergetar dalam hatinya. Walaupun tidak dinyatakan secara lisan dan tertulis. Walaupun dia seorang yang bisu dan tuli. Karena itu iman bisa dikatakan rasa yang bisu. Tanpa tulisan tanpa suara. Tak bersuara tak bernoktah ...
Pernyataan iman, jika seseorang jujur, bisa jadi merupakan pantulan dari sikap bathinnya. Tapi kalau ada seseorang yang mengatakan seseorang sangat beriman kalau bahwa setiap diskusi agama ada orang yang sangat fasih dan luas pengetahuannya tentang topix diskusi yang sedang di ikutinya, itu adalah pernyataan yang salah sasaran. Kenapa itu sering terjadi? karena mereka telah menelan secara mentah dan bulat bulat kalimat yang mengatakan "Ucapan seseorang adalah cermin imannya" ... hee3
Kalau kita mau jujur, bahwa dalam diskusi agama yang muncul adalah cara berpikir seseorang bukan iman seseorang. Walaupun topiknya adalah agama, Tuhan dan iman, tapi apa yang ditulisnya tentang semua itu adalah pantulan dari cara berpikirnya. Bukan pantulan dari imannya. Pernyataan dan pendapat yang tidak bermutu seorang peserta diskusi dalam sebuah diskusi, bukan gambaran kualitas imannya. Begitu juga sebalilknya. Argumentasi yang canggih sekalipun bukan otomatis menggambarkan kecanggihan imannya. Artinya diksusi agama bukanlah lambang iman. Tapi adalah lambang cara berpikir ...
Pengetahuan seseorang dalam beragumentasi yang bermutu dan jenius serta tajam pola pikirnya dalam suatu diskusi , tidak didapat dengan iman. Tapi dengan belajar. Dengan mengasah ketajaman berpikir ...
Jika seseorang ingin mempertebal iman, diskusi agama bukanlah satu-satunya tempat. Seluruh aspek kehidupan, dari banyak pengalaman sehari-hari, momen-momen tertentu, bisa menginspirasi pada iman seseorang. Bahkan bisa sangat sangat menggetarkan. Misalnya karena mengalami peristiwa yang sangat menyedihkan, kesakitan yang tak tertahankan, kematian seseorang yang dicintai. Atau sebaliknya ketika mendaptkan keberuntangan yang luar biasa. Singkatnya, pupuk iman tidak selalu dalam bentuk kata-kata (ceramah dan diskusi). Alam dengan segala fenomenanya adalah vitamin iman bagi hati yang peka.
Tapi sebaliknya, jika ingin menikmati diksusi, jika ingin mengerti apa yang disampaikan orang lain, memamahami sebuah tulisan, menanggapi pendapat lawan diskusi, tidak bisa ditempuh dengan cara mempertebal iman. Seseorang yang rajin sholat, hafal 200 ayat Alquran, rajin ke gereja, hafal 389 ayat Alkitab, bukan jaminan dia mengetahui sejarah Islam. Bukan otomatis dia tahu Sejarah Yesus. Bukan jaminan ia memahami perbedaan antara Sunnah dengan Hadis. Bukan jaminan dia memahami konsep Trinitas. Bukan jaminan dia memahami konsep Ketuhanan menurut paham Mu’tazillah dan Ahlus Sunnah. Bukan jaminan dia bisa mencerna paham hulul Ibnu Mansur Al Hallaj. Dan …. Bukan jaminan dia bisa berdialog yang nyambung dan argumentatif dengan orang lain.
Keyakinan tidak bisa menembus argumentasi lawan bicara. Keyakinan tidak bisa menggugurkan pendapat lawan diskusi. Mengucapkan Allahu Akbar, nauzubillah, masya Allah, semoga anda ditunjuki oleh Allah, puji Tuhan Yesus dan sejenisnya, TIDAK bisa menggugurkan sebuah pendapat. Pendapat harus dihadapi dengan pendapat. Argmentasi harus dihadapi dengan argumentasi. Logika dan penalaran harus dihadapi dengan hal yang sama. Bukan dengan iman dan dogma.... hee3











