Kalau bicara tentang Tuhan, maka sebagian besar manusia akan bicara tentang Tuhan berdasarkan imajinasi mereka. Yang mana imajinasi tersebut terbentuk dari literatur kitab suci agama dan buku buku referensi hasil karya dari pemuka agama mereka serta cerita dari orang yang mereka anggap lebih paham dari mereka. Yang namanya imajinasi maka akan kebentur dengan realita hukum sebab akibat. Rata rata mereka kalau ditanya tentang hubungan Tuhan dan ciptaannya, maka mereka akan menjawab: "bahwa segala sesuatu ada yang menciptakannya", Nah Alam ini beserta isinya ada yang menciptakan, yaitu sang pencipta (Tuhan). Disini ada hukum sebab akibat, akibat itu ada karena ada sebab, alam beserta isinya di sebut akibat, sebabnya karena Tuhan. Jika semua manusia menyetujui bahwa hukum sebab akibat itu mutlak, maka Tuhan akan terkapar sendiri saat ditanya:
"Yang menciptakan Tuhan siapa ?"
Jika ini tetap dibahas, maka akan terjadi debat kusir yang bisa memacu adrenalin dan serangan jantung mendadak, sebagai senjata pamungkas mereka akan mengatakan; "jangan Tanyakan Itu, Dosa besar" (Akhirnya Doktrin dan Dogma yang menjadi kambing hitam)
Jika disetujui bahwa segala sesuatu ada sebabnya, maka hukum sebab akibat akan batal kemutlakkannya. Apalagi adanya sesuatu tanpa sebab. Karena itu keberadaan Tuhan yang ada dengan sendirinya otomatis batal demi hukum. Itu hanya angan-angan yang dirasionalisasikan dalam bentuk premis dan postulat. Jadi yang sering di bicarakan dan diperdebatkan manusia hanya Tuhan yang berada dalam imajinasi mereka yang dipagari oleh Dogma dan doktrin. Sedangkan Tuhan yang sebenarnya mereka sendiri tidak tahu. Hanya ada istilah untuk mereka "Sok tahu tentang Tuhan".








Tuhan berdasarkan agama apa dulu yang di bicarakan?
BalasHapusTuhan berdasarkan agama apa saja boleh :)
BalasHapus